EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Oleh : Muhammad Idris

Terumbu karang (coral reefs) merupakan ekosistem yang khas di laut tropis, tetapi juga dapat dijumpai di beberapa daerah subtropis, walaupun perkembangannya tidak sebaik di perairan laut tropis. Terumbu karang merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar laut daerah tropis yang di bangun oleh biota laut penghasil kapur khususnya jenis karang dan alga penghasil kapur (CaCO3) dan menjadi ekosistem yang cukup kuat untuk menahan gelombang laut (Nybakken, 1988).

Ekosistem terumbu karang terdapat di lingkungan perairan yang agak dangkal. Untuk mencapai pertumbuhan maksimumnya, terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, dengan suhu yang hangat, gerakan gelombang yang besar, serta sirkulasi yang lancar dan terhindar dari proses sedimentasi.

Sumber : http://www.kp3k.kkp.go.id

Ekosistem ini mempunyai fungsi dan manfaat penting, baik dari segi ekonomi maupun ekologi. Dari segi ekonomi terumbu karang memiliki nilai estetika dan dan keanekaragaman biota yang tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan, bahan obat-obatan ataupun sebagai objek wisata bahari.

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang dinamis mengalami perubahan terus-menerus namun sangat rentan terhadap perubahan lingkungan yang berasal dari luar terumbu karang dan mempunyai produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi, sehingga menjadi sumber plasma nutfah bagi kehidupan biota laut. Di samping itu, ekosistem terumbu karang yang juga merupakan tempat hidup, tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground), dan tempat memijah (spawning ground) dari berbagai biota laut.

Di tinjau dari segi ekologisnya, terumbu karang sangat beraneka ragam tersebut memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menyumbangkan stabilitas fisik, yaitu mampu menahan hempasan gelombang kuat sehingga dapat melindungi pantai dari abrasi. Adapun dari segi sosial ekonomi, terumbu karang adalah sumber perikanan yang produktif, sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan, penduduk pesisir, dan devisa negara yang berasal dari perikanan dan pariwisata. Oleh karena itu, ekosistem ini harus dilindungi dan dikembangkan secara terus-menerus untuk kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Fungsi terumbu karang adalah sebagai berikut:

  1. Pelindung pantai dari aspek oseanografi dan klimatologi seperti angin, pasang surut, arus, dan badai.
  2. Sumber plasma nutfah dan biodiversitas atau keanekaragaman yang diperlukan bagi industri pangan, bioteknologi, dan kesehatan.
  3. Tempat hidup ikan, baik ikan hias maupun ikan target, yaitu ikan-ikan yang tinggal di terumbu karang.
  4. Tempat perlindungan avetebrata kecil dari predator.
  5. Penghasil organik (produktivitas organik) yang sangat tinggi sehingga menjadi tempat mencari makan, tempat tinggal, maupun penyamaran bagi komunitas ikan.
  6. Khusus untuk karang batu, sebagai konstruksi jalan dan bangunan, bahan baku industri dan perhiasan.
  7. Komoditi perdagangan untuk jenis teripang (kelas Holothuroidea).
  8. Secara sosial ekonomi sebagai daerah perikanan tangkap, wisata, maupun penambangan batu.

Kehidupan terumbu karang sangat mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya, baik secara fisik maupun biologis. Akibat kombinasi dampak negatif langsung dan tidak langsung pada terumbu karang, sebagian besar terumbu karang di wilayah perairan dangkal saat ini sudah mengalmi kerusakan yang sangat parah. Bagaimanapun juga, tekanan terhadap keberadaan terumbu karang paling banyak diakibatkan oleh kegiatan manusia, sehingga perlu dilakukan langkah pencegahan. Adapun faktor lingkungan  yang dapat mempengaruhi kehidupan dan laju pertumbuhan karang antara lain:

  1. Suhu denga kisaran rata-rata tahunan antara 26-28 C, tetapi masih dapat tumbuh pada suhu 18 C.
  2. Salinitas alami dengan kisaran antara 32-36, pada kondisi ekstrem karang masih mampu berkembang pada salinitas 47.
  3. pH alami berkisar antara 7,2-8,5.
  4. Kecerahan perairan yang tinggi dan interaksi cahaya yang tidak kurang dari 10 meter dengan intensitas cahaya 30-40%.
  5. Kondisi oksigen terlarut yang tinggi.
  6. Masukan air tawar yang sedikit dari sungai.
  7. Perairan bebas dari bahan pencemar seperti logam berat, minyak, dan pencemaran lainnya.
  8. Konsentrasi nutrien anorganik dan padatan tersuspensi yang rendah.

Pertumbuhan karang dan penyebaran terumbu karang tergantung pada kondisi lingkungannya. Kondisi ini pada kenyataannya tidak selalu tetap, tetapi sering kali berubah karena adanya gangguan bauk berasal dari alam atau aktivitas manusia (antrophogenik). Faktor alam secara fisik-kimia yang mempengaruhi kehidupan atau laju pertumbuhan karang antara lain cahaya matahari, perubahan suhu air laut yang ekstrem, adanya gelombang pasang dengan kekuatan besar (tsunami). Adapun faktor biologi, biasanya akibat pemangsaan oleh predator seperti bulu babi, ikan kakak tua, ikan kepe-kepe, dan biota pemakan karang lainnya. Meningkatnya kegiatan manusia di sepanjang garis pantai semakin memperparah kondisi terumbu karang seperti pengambilan karang, penangkapan ikan dengan menggunakan bom atau potas, pengerukan dan reklamasi pantai, dan kegiatan lain yang menimbulkan limbah ke perairan pantai.

Berdasarkan geomorfologinya, ekosistem terumbu karang dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu terumbu karang tepi, (fringing reef), terumbu karang penghalang (barrier reef), dan terumbu karang cincin (atoll).

Sumber :

Fachrul, M. F. 2006. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Nybakken, J.W. 1982. Biologi Laut suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh H.M. Eidman, Koesbiono et al. Jakarta: Gramedia.